KAMI INGIN BUKTI
*___KAMI INGIN BUKTI___*
_ Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika seorang lelaki tua berdiri di depan rumahnya yang sederhana. Ia memandang jalan tanah yang masih basah setelah hujan semalam.
Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah mulai dingin.
Di kejauhan, anak-anak berjalan menuju sekolah. Sebagian membawa buku yang dibungkus plastik agar tidak basah. Sekolah mereka masih memiliki atap yang bocor. Ketika hujan turun, belajar harus dihentikan.
Lelaki itu menghela napas panjang.
Bertahun-tahun ia mendengar janji.
Ada yang datang membawa rombongan.
Ada yang datang membawa kamera.
Ada yang berdiri di atas panggung dan berbicara tentang perubahan.
Mereka berbicara tentang kesejahteraan rakyat, pembangunan, pendidikan, kesehatan, jalan, tanah, dan masa depan.
Rakyat mendengarkan.
Mereka bertepuk tangan.
Mereka berharap.
Tetapi setelah rombongan pergi, kehidupan kembali seperti semula.
Jalan tetap rusak.
Sekolah tetap bocor.
Harga kebutuhan terus naik.
Dan sebagian masyarakat masih harus berjuang hanya untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
Lelaki tua itu akhirnya berkata kepada anaknya,
“Bapak sudah terlalu sering mendengar janji.”
Anaknya terdiam.
“Sekarang Bapak tidak ingin mendengar pidato lagi.”
“Lalu Bapak ingin apa?”
Lelaki itu memandang ke arah sekolah.
“Bapak ingin bukti.”
Bukan bukti berupa baliho besar.
Bukan foto pejabat sedang tersenyum.
Bukan slogan yang dicetak dengan huruf besar.
Bukan janji yang terdengar indah ketika disampaikan di atas panggung.
Ia ingin melihat jalan yang benar-benar dibangun.
Ia ingin melihat sekolah yang layak untuk anak-anak.
Ia ingin melihat masyarakat mendapatkan haknya.
Ia ingin melihat tanah rakyat dihormati.
Ia ingin melihat hukum berdiri tegak, bukan hanya ketika berhadapan dengan orang kecil.
Hari itu, lelaki tua tersebut menyadari satu hal.
Rakyat sebenarnya tidak membenci pemerintah.
Rakyat tidak membenci pemimpin.
Yang membuat rakyat lelah adalah ketika suara mereka hanya didengar saat membutuhkan dukungan, kemudian dilupakan setelah kekuasaan berada di tangan.
Rakyat tidak meminta kehidupan mewah.
Mereka hanya ingin hidup dengan layak.
Mereka ingin anak-anak mereka memiliki masa depan.
Mereka ingin bekerja tanpa kehilangan hak.
Mereka ingin tanah tempat mereka hidup dihargai.
Dan mereka ingin ketika seorang pemimpin mengatakan “kami akan memperjuangkan rakyat”, kalimat itu benar-benar dibuktikan melalui tindakan.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari pidato.
Rakyat hidup dari perubahan nyata.
Mereka tidak makan slogan.
Mereka tidak menyekolahkan anak dengan janji.
Mereka tidak membangun rumah dengan retorika.
Mereka membutuhkan tindakan.
Maka suara dari desa-desa mulai terdengar semakin jelas:
“Kami sudah mendengar terlalu banyak kata-kata.”
“Sekarang kami ingin bukti.”
Bukan karena rakyat sudah kehilangan harapan.
Justru karena mereka masih berharap.
Mereka ingin percaya bahwa kekuasaan masih bisa digunakan untuk kebaikan.
Bahwa jabatan masih bisa menjadi amanah.
Bahwa pemerintah masih bisa berdiri bersama rakyat.
Dan bahwa perubahan bukan sekadar cerita yang diulang setiap musim politik.
Sebab sebuah negara tidak akan menjadi besar karena banyaknya janji yang pernah diucapkan.
Negara menjadi kuat ketika kata-kata pemimpinnya dapat dipercaya dan setiap janji diterjemahkan menjadi tindakan.
Kami tidak meminta keajaiban.
Kami hanya meminta bukti bahwa suara rakyat benar-benar berarti.
Bukan lagi pidato.
Bukan lagi janji.
Kami ingin bukti.






![download[4]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGGXdH9zIDv8Zw-qaHc8ExfjpGQWh3vlVnyqEVxt0vOakwc2qM05RBWLzDuOkHOvftwXFveOve3unSg8mOBuUq2-8M0VUrWRyzSXhx5Igwiq9MbnepJn0CJtTz-s9In-4x7NBfDQZyWqGHYlBYbaIrIyYTmOWbzwfnuYMMr_XcDazGf-Xi8qlHzidv/s815/APK%20SOREL.jpg)
%20Partai%20Hati%20Nurani%20Rakyat%20(HANURA)%20Provinsi%20.jpg)
Tidak ada komentar
Tulis komentar disini